Nasib Keturunan RA. Kartini, Sungguh Miris

Print More

PITALOKA.ID, Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Tapi kenyataannya terkadang para pejuang punya nasib miris dan terkucilkan begitu saja. Karena perbedaan pandangan politik bisa mengakibatkan di kucilkannya sang pahlawan hingga akhir hayatnya. Diatas adalah contoh kongkrit yang selama ini kita dengar.

Salah satu yang tak dapat perhatian pemerintah adalah yang dialami oleh keturunan Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini. Padahal setiap tanggal 21 April, bangsa ini selalu memperingatinya. Memperingati lahirnya Srikandi yang pernah dimiliki bangsa ini. Mirisnya adalah keturunan RA Kartini tak seagung nenek moyangnya.

RA Kartini [Image Source]

Adalah Ahmad Marzuki, Bupati Jepara yang menceritakan kondisi keturunan keluarga RA Kartini. Bupati Jepara mengisahkan itu, saat dia diwawancarai sebuah majalah yang terbit di Jakarta, tahun lalu.

Mengutip apa yang dikisahkan Ahmad Marzuki, RA Kartinibeliau hanya mempunyai satu putra semata wayang. Putra satu-satunya putri Jepara itu adalah Raden Soesalit. Menurut catatan sejarah, Soesalit usai sang ibunda meninggal diasuh oleh sang nenek. Kemudian saat dewasa dia berkarir di tentara keamanan rakyat atau TKR. Bahkan pangkatnya sempat jadi Mayor Jenderal. Namun sayang, karena ada reorganisasi tentara, pangkat Soesalit diturunkan jadi Kolonel.

Raden soesalit ketika masih anak-anak Via Boombastis.com

Bung Karno, Presiden RI saat itu punya kedekatan khusus dengan putra RA. Kartini. Bahkan Bung Karno pernah mengucapkan kalu  Raden Soesalit adalah salah satu jenderal kesayangannya.

Menurut Ahmad Marzuki, Soesalit pun hanya punya satu anak dari pernikahannya dengan seorang perempuan. Namanya adalah Boedhy Setia Soesalit. Boedhy kemudian menikah dengan Sri Bidjatini. Dari hasil pernikahan dengan Sri Bidjatini tersebut lahirlah lima anak. Lima anak yang merupakan cicit RA Kartini ini adalah Kartini, Kartono, Rukmini, Samimun, dan Rachmat.

Ahmad Marzuki mengungkapkan, lima cicit RA Kartini itu ternyata menderita autisme. Mereka sekarang tinggal di Parung Bogor. Boedhy Soesalit​ sendiri meninggal pada usia 57 tahun. Sepeninggal Boedhy, istrinya, Sri Bidjatini harus berjuang sendirian untuk menghidupi anak-anaknya. Pekerjaan berat di pundaknya karena anak-anaknya menderita autisme. Kata Ahmad​ Marzuki kehidupan keturunan RA Kartini itu memprihatinkan. Yang kehidupannya lumayan hanya anak pertamanya, Kartini yang juga tinggal di Parung Bogor. Sementara cicit RA Kartini lainnya, kehidupannya memprihatinkan.

Sri Bidjatini harus berjuang keras Via Boombastis.com

Sempat ada kabar kalau pemerinta muali memperhatian. Menteri PU, pernah berjanji membantu mereka. Mereka akan dibangun sebuah rumah. Bahkan ketika Anies Baswedan masih jadi Menteri Pendidikan, juga pernah berjanji, akan memberikan beasiswa bagi garis keturunan RA Kartini. Apakah sekarang janji itu sudah ditunaikan  atau tidak. Yang pasti, dari cerita itu yang bisa dipetik sebagai, kita ini baru bisa menghargai jasa pahlawannya hanya sebatas upacara peringatan. Sementara keturunannya, dilupakan. [HM/B]